Mendengar kata valentine, sepertinya hal ini seperti mimpi buruk bagi para jones yang berkeliaran diluar sana. Tapi tenang, postingan ini bukan bertujuan untuk mengolok-olok para jones, justru mungkin postingan ini akan memberikan dorongan bagi para jones.
Valentine, ya, valentine. Siapa yang belum pernah mendengar yang namanya hari valentine? Hari yang jatuh tanggal 14 Februari dan diperingati diseluruh dunia sebagai hari kejatuhan para jones, eh, maksudnya hari kasih sayang. Jika direnungkan kembali, menurut dari tujuan awal ataupun nama lain daripada valentine, saya jadi bertanya-tanya, jika memang valentine hari kasih sayang, lalu kenapa yang diberikan kasih sayangnya hanyalah pasangan masing-masing?
Apakah kasih sayang itu hanya berlaku untuk pasangan? Saya rasa tidak, dan mungkin anda juga berpikir demikian. Semua yang ada di bumi ini tentunya pantas untuk merasakan kasih sayang juga. Lalu, kenapa ketika hari valentine yang punya julukan sebagai hari kasih sayang hanya menunjukkan kasih sayang yang "limited"?
Masih terdapat pertentangan antara dua kubu mengenai hari valentine ini, ada yang menolak, dan ada yang mendukung, dan disini saya tidak akan membahas hal ini. Biarkan saja mereka yang ribut disana hanya karena memperebutkan perhatian Pak Lentin. Mungkin ini postingan yang cukup ekstrim sebagai pembuka dari sebuah blog yang baru saja terlahir, tapi ya mau bagaimana lagi. Pada saat ini, Pak Lentin sedang menjadi topik yang sangat hangat, baik ditinjau dari negeri air Jakarrta maupun planet Bekasi.
Nah, kembali ke urusan target kasih sayang tadi, saya rasa akan lebih adil jika anda membagi kasih sayang anda dengan mereka yang meringkuk, terpojok dalam kelamnya malam Pak Lentin, dibandingkan menunjukkan lagi kasih sayang yang memang selalu anda tunjukkan ke pasangan anda.
Ada beberapa orang yang bilang, "apa gunanya hari valentine? Toh kita bisa memberikan kasih sayang setiap hari jika kita mau, gak harus pake manggil Pak Lentin kan?" Nah, ini adalah salah satu pendapat yang paling saya sukai. Rasional dan mendalam. Jika dipikirkan berdasarkan keadaan para kaum "J" yang meringkuk, terpojok, dan terpnggirkan ketika malamnya Pak Lentin datang, rasanya hal itu sudah tidak bisa disebut hari kasih sayang lagi. Kasih sayang itu membawa kebahagiaan, bukan membawa kesedihan, apalagi kemaksiatan.
Nah, saya jadi berpikir kembali. Dari kasus yang sudah-sudah, hampir setiap malam dimana Pak Lentin datang, banyak sekali tempat yang menjadi casting spot untuk film bergenre "hentai". Entah apa maksudnya, tapi itu membuat saya hanya bisa menggelengkan kepala, bukan pertanda iri, tapi sebagai indikasi bahwa hal itu sangat miris. Katanya kan valentine itu hari kasih sayang, lah kok malah jadi hari casting hentai berjamaah?
Lalu, apa solusi yang tepat untuk menengahi kedatangan Pak Lentin ini?
Kalau menurut saya, bagi yang mau ikutan sama Pak Lentin, ya itu sih hak anda. Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, agama, dan makhluk-makhluk astral lainnya. Jadi anda berhak menentukan apa yang mau anda lakukan, asalkan anda masih ingat bahwa kita masih menganut budaya ketimuran. Dimana norma kesopanan dan susila dijunjung tinggi. Ingat, hentai bukanlah manifestasi rasa sayang. Hati-hati buat yang cewek, awas di modusin, di PHPin, dihamilin, abis itu ditinggalin. Jangan lupa bawa stun gun, baton stick, katana, tank berlapis baja, atau mungkin bom hidrogen (lebay) saat keluar menantikan kedatangan Pak Lentin. #AwasModus
Nah, bagi yang tidak ikutan, karena faktor-faktor yang berbeda, mulai dari yang masuk akal, sampe yang amsuk angin, dari yang gengsi sampe yang ngiri, dari yang berdasar ideologi sampe yang cuma bisa gigit jari, jangan khawatir klinik T*ng F*ng masih buka kok, bercanda. Ada banyak hal yang bisa anda lakukan, hal yang lebih penting seperti misalnya nonton sinetron (lupakan), atau mungkin anda bisa menghasilkan sesuatu yang berguna, seperti membuat papercraft, atau hal lainnya. Ingat, jangan jadikan malam suram anda membuat sabun dirumah anda habis. Haha.
Yasudah, mungkin cukup sekian cerita panjang lebar kita tentang kedatangan Pak Lentin. Mungkin isinya gak ada karena ceritanya ngawur kemana-mana. But overall, i think we can take a learning from this article. Tetap semangat, walau Pak Lentin numpang lewat. Tetap ingat norma saat berjalan dengan si dia. Salam dari Pak Lentin, salam dari Penulis. Have a nice day. :)